Batu berbisik sambil melihat Sungai “ Wahai Sungai,bawa aku mengalir,biarkan aku belajar setitik lain tentang dunia”
Sungai menggeleng “ Kamu akan tetap berada disitu batu, sampai akhir hayatmu”
Batu terhenyak “ Kenapa kamu berkata begitu sungai?”
“ Karena kamu telah memilih untuk tetap menjadi batu dan karena pilihanmu itu sekeras rupamu” teriak Sungai sambil memantau alirannya.
Batu terhenyak kembali dan melihat aliran itu dengan nanar “ Tapi aliran itu bisa membawaku pergi Sungai, aku bisa belajar banyak tentang langit, aku bisa menyaksikan bintang di ujung dunia, aku bisa pergi kemanapun yang kusuka”
Sungai memutar matanya, bagi Batu gerakan itu terlihat seperti ombak laut. Betapa ingin batu melihat lautan.
“ Ingatlah kamu di masa lalu,ingatlah keinginan kamu untuk menjadi Batu, ingatlah kamu yang mengatakan pada angin untuk menyebarkan kabar bahwa kamu akan menjadi batu terkokoh dan terkuat yang tidak akan pernah beranjak dati tempat itu walaupun dibujuk dengan emas dan disiksa hujan”
“ Aku ingat Sungai, itu janjiku terhadap Tanah, untuk ada disini menemaninya. Tapi mengertilah Sungai, bagaimanapun aku ingin berlari. Sudah terlalu lama aku disini menemani tanah”
Aliran sungai melambat , sang biru itu terkejut “ Jadi kamu tidak lagi setia pada Tanah?”
“ Aku disini seratus tahun Sungai, sudah cukup mengenal Tanah . Warnanya tetap coklat tua, tidak bisa menjadi pelangi. Aku ingin melihat pelangi”
Ketika sungai ingin menjawab terdengar suara lemah lembut berkata pelan “ biarkan dia pergi wahai sungai teman lama kami, Batu ingin melihat dunia dan aku tidak bisa memberikan dunia”
Tanah berbicara, suaranya sedih, membuat siapapun yang mendengarkan akan terhenti sejenak dari aktivitasnya dan mengikuti kesedihan tanah.
Dan dengan izin tanah itulah batu pergi dengan gembira.
“ Aku meninggalkanmu Tanah untuk melihat dunia dan mungkin aku tak akan kembali”
Sungai, pohon , dan burung-burung miris mendengar perkataan batu. Diam-diam mereka berharap Tanah akan memarahi batu atau melempar batu sampai ada satu bagiannya yang pecah. Mereka menunggu ketika Tanah diam saja.
Sampai batu pergi Tanah pun masih diam.
100 tahun lagi berlalu dan Tanah masih diam. Seekor burung pipit yang usil baru datang dari kota sebelah. Ditengah kicauannya dia mendengar berita tentang Tanah yang tidak lagi bicara semenjak ditinggal sebuah batu. Maka dia pergi mencari Tanah dengan maksud menanyakan akhir cerita dari kabar tersebut.
“ Tidak ada akhir ceritanya wahai burung pipit” sungai berbicara mewakili Tanah yang masih diam. “ Batu tetap pergi dan Tanah masih diam “
Burung pipit itu berpikir keras, dia ingin membantu Tanah.
“ Aku akan mencari batu , dengan sayapku ini aku bisa terbang kemana saja, katakan padaku ciri si batu”
“ Lihatlah batu gagah yang selalu menghadap pelangi” suara lembut itu akhirnya terdengar kembali. “ Carilah batu yang berbeda dari batu lain, carilah batu yang paling kokoh diantara bangsanya, dan katakan padanya jika dia sudah cukup belajar tentang dunia dan pelanginya untuk kembali padaku”
Maka pergilah burung pipit mencari Batu, setelah terbang kesana kemari ditemukannya Batu yang sedang bercanda dengan Pelangi.
“ Pasti itulah batu tersebut, akan kumarahi dia karena membuat Tanah menderita”
Turunlah si burung pipit dan mematuk batu, memarahinya karena membuat Tanah menunggu sementara disini dia bercanda dengan Pelangi.
Batu terlempar kesana kemari karena kekuatan kaki Burung Pipit, anehnya dia tidak kesakitan. Seperti kata Tanah, batu ini paling kokoh diantara batu lain. Sampai akhirnya burung pipit kelelahan, Batu masih tetap kuat
“ Kenapa kamu burung pipit kecil mengurusi urusan orang?” Tanya Pelangi
“ Aku kasihan kepada Tanah, batu telah membuatnya menderita! Sekarang Tanah selalu diam! Tanah sakit” jerit si Pipit
“ Wahai burung kecil, tahukah kamu disini aku juga mengamati Tanah. Dan yang aku lihat adalah ,dia sebenarnya bisa bahagia. Setiap hari dia disirami air berlimpah, ditanami bunga yang indah, dan ditemani aliran sungai yang menjaga tanah siang malam. Tahukah kamu dia yang memilih untuk menderita, karena tidak melihat semua itu dan tetap mengharapkan Batu kembali”
Burung Pipit diam.
“Burung pipit yang baik, aku sudah bahagia bersama pelangi, Tanah telah mengajarkanku banyak hal. Aku menjadi seorang batu yang kokoh dan berbeda dari yang lain tetapi dia tidak bisa menjadikanku batu yang memiliki hati, Aku ingin berguna bagi dunia, bukan hanya untuk Tanah” “ Kadang untuk membuat dunia bersinar, kita harus meninggalkan dunia yang membuat kita bersinar dan itulah yang aku pilih burung pipit kecil. Tolong katakan pada Tanah untuk belajar bahagia karena dia sebenarnya bisa bahagia”
Burung Pipit kecil terbang ke Timur sambil menangis dia tidak tahu lagi siapa yang harus dia bela. Apakah Tanah karena cintanya yang begitu besar terhadap Batu,atau Batu yang telah mengajarkannya cara lain untuk terbang
-taken from cerita tentang batu-